Berita Kegiatan Ditjen Yanrehsos Kementrian Sosial RI

DEPSOS ADAKAN RAPAT KOORDINASI TERPADU PENANGGULANGAN GEPENG.

JAKARTA,Demokratis
Permasalahan pengemis,gepeng dan anak jalanan hanyalah turunan dari permasalahan kemiskinan. Selama persolan kemiskinan belum teratasi jumlah pengemis, gepeng dan anak jalanan tidak akan pernah berkurang malah jumlahnnya akan semakin bertambah.
Masalah kemiskinan di Indonesia berdampak negatif terhadap meningkatnnya arus urbanisasi dari daerah pedesaan ke kota-kota besar,sehingga terjadi kepadatan penduduk dan daerah-daerah kumuh yang menjadi pemukim para urban tersebut, sulit dan terbatasnnya pekerjaan yang tersedia serta terbatasnnya pengetahuan, keterampilan dan pendidikan menyebabkan mereka banyak mencari nafkah untuk mempertahankan hidup dengan terpaksa menjadi gelandangan dan pengemis.
Kementrian sosial terus berupaya untuk mengurangi tingkat populasi Gepeng dan anak jalanan, tahun 2011 pemerintah berusaha untuk lebih mengedepankan upaya penanggulangan kedua pokok permasalahan tersebut, di Indonesia terdapat sekitar 30 juta orang penyandang masalah kesejahteraan sosial(PMKS), yang terbagi dalam 22 kelompok, salah satunya adalah anak jalanan terlantar,gelandangan, dan pengemis (gepeng) yang jumlahnnya sekitar 3 juta jiwa.
Data pusdatin kementrian sosial tahun 2009 menunjukkan jumlah pengemis sebanyak 31.1793 jiwa,sementara jumlah gelandangan tahun 2009 sebanyak 54.028 jiwa, keterkaitan ini sangat jelas bahwa faktor kemiskinanlah yang menyebabkan mereka hidup seperti itu. Untuk mengurangi penduduk miskin yang berjumlah 34 juta, tahun 2010 disediakan anggaran Rp. 1,8 triliun.
Hal ini menunjukkan bahwa alasan ekonomi keluarga merupakan pendorong utama semakin banyaknya gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang menjadi peminta-minta, dan pada akhirnya hidup berkeliaran di jalan-jalan dan tempat umum. Maraknya gelandangan dan pemngemis disuatu wilayah dapat menimbulkan kerawanan sosial, mengganggu ketertiban umum, ketenangan masyarakat dan kebersihan keindahan kota.
Gelandangan bisa dikategorikan sebagai orang yang tuna wisma atau tidak punya tempat tinggal tetap sehingga kehidupannya berpindah-pindah hanya untuk tidur dan sebagainya. Kalau kita perhatikan banyak sekali di jembatan penyeberangan, dipasar dan dimana tempat kita sering menemukan pemandangan orang dengan baju kumal menengadahkan tangannya uintuk meminta-minta. Mengemis tapi juga mengelandang. Dengan senjata anak kecil yang mungkin malah bukan anaknnya, mereka meminta sedekah atau dengan berpura-pura mempunyai luka yang tidak sembuh-sembuh. Ya mereka menengadahkan tangan hanya untuk rupiah.

Dalam rangka untuk mengurangi jumlah mereka, Dep.Sosial RI melalui Ditjen Yanrehsos kementrian Sosial RI melakukan rapat Koordinasi dengan berbagai Instansi terkait, terutama yang berada di wilayah Prop./Kota DKI Jakarta.Yang diadakan Senin , 2 Februari 2010..
Rapat Koordinasi ini dihadiri oleh berbagai instansi terkait DKI Jakarta, Diantarannya kasi Bidang pelayanan dan rehabilitasi sosial Dinsoso DKI Jakarta, Para Kadis Administrasi Kota jakarta, Kepala biro bina Mitra Polda Metro jaya, para kepala satpol PP dan Subkamisi Pemantauan dan Penyelidikan komisi Hak Asasi Manusia.
Dari pemantauan Demokratis di lokasi Rapat di ruang media Center Kementrian sosial RI Lantai 1. Hadir dalam pertemuan ini Kasusdin Binsos Jak-Pusat (Ibu Ika lestari) yang dalam keterangan persnya kepada Demokratis mengatakan bahwa Gepeng yang sudah terjaring di Wil Jak-pusat berjumlah 223 yang diantarannya Anjal Joki Tri in One berjumlah 180 Orang.
Sedangkan Untuk wil Jak-Timur dari penuturan (M Anshary Atjo) yang juga Ka.Sudin Binsos Jak-Timur mengatakan” Bahwa di Jak-Timur Gepeng berjumlah 87 orang, Anjal (228 Org) dan 300 orang lebih untuk dilakukan penjangkauan.
Sedangkan dari pejabat terkait yang hadir, Dwi Agus S (Satpol PP Jak-Timur), A.N Alamsyah (KB Bimmas Mabes Polri), Bambang B ( Kasi Mis Satpol PP Jak-sel), Idris Triyanan ( Ka. Satpol PP Jak-Pusat), Prayitno ( Ka. Seksi Yanrehsos Sudin Jak-Utara), M Wisanto (PKB) bekasi. Saifullah (kasi Yanrehsos sudin Binsos Jak-barat), Ireni ( Kabid Yanrehsos Dinas Binsos DKI, beni Susanto Aks (Kasi perlindungan anak). Genef, ujang jailani, Chairuddin, dan Isep sepriyana.
Dalam Wawancara demokratis Dengan Ditjen Yanrehsos Kementrian sosial RI, Bapak Makmur sanusi mengatakan” bahwa permasalahan sosial sep: gepeng dan anjal ini merupakan masalah yang sudah lama berlangsung dari dahulu sampai saat ini, oleh karena itu kami dengan jajaran terkait akan terus mengupayakan dan mencari pola solusinya.
Sementara dari keterangan Bapak Tunggul Sianipar mengatakan bahwa Rapat koordinasi ini diadakan dalam rangka menghimpun berbagai masukan-masukan dari instansi terkait guna mencari solusi bagi pengentasan masalah sosial ini.Dan kegiatan ini akan terus berlanjut. (Addy DM/ Sul)
Anda ingin menanggapi berita diatas hub E-mail: masdar_addy@yahoo.com

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: